Minggu, 14 Oktober 2012

Penemuan Makam Keramat peninggalan kerajaan Majapahit dalam Kantor Bank

0

PERTEMPURAN SURABAYA - 10 NOVEMBER 1945.

0

Sabtu, 06 Oktober 2012

Rumah Sakit Darmo, Surabaya

Rumah Sakit Darmo, Surabaya


Rate This

Rumah Sakit (RS) Darmo berada di Jalan Raya Darmo no. 90, gedung tua tersebut dibangun pada tahun 1913 dikenal dengan nama Kitahama Butai, sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Sewaktu pemerintahan Jepang gedung tersebut digunakan sebagai bengkel untuk memperbaiki dan menyimpan senjata berat serta kendaran perang antara lain tank. Pernah pula dipakai Jepang sebagai Kamp Interniran anak-anak dan wanita. Setelah pasukan Sekutu datang ke Surabaya, kamp ini diambil alih oleh Letkol Rendall pada tanggal 27 Oktober 1945, gedung ini menjadi pusat pertahanan pasukan Brigjen AWS Mallaby.
Karakteristik gedung ini dapat kita amati dari bentuk bangunan genteng yang unik, dengan banyaknya jendela-jendela yang berada di sekitar genteng. Selain itu gaya arsitektur yang melekat pada gedung ini lebih pada gaya rasjonajjsme, dengan perisai dan domer yang unik.
Bagi warga Kota Surabaya tentunya, gedung tua ini punya nilai sejarah tinggi yang tak pernah akan pupus, khususnya sebagai warisan lembaran sejarah para pejuang dalam membela Tanah Air. Karena di depan gedung inilah pertempuran antara tentara sekutu dan para pejuang Arek-arek Suroboyo mulai meletus. Tepatnya, saat itu tanggal 27 Oktober 1945 yang selanjutnya api pertempuran terus berkobar sampai peristiwa heroik 10 November 1945, bahkan gedung ini dijadikan benteng pertahanan oleh pasukan Brigade Jenderal AWS Mallaby.
Terlepas dari itu, RS Darmo adalah salah satu cagar budaya yang menjadi aset arek-arek Suroboyo. Selebihnya, bangunan berarsitektur Belanda yang juga banyak ditemukan di sejumlah kota di negeri Kincir Angin, seperti Scheveningen, Delt, Madurodam, Den Haag, Amsterdam, serta Kota Leiden itu, perlu dilestarikan (WKuDW) share
0

Monumen Wira Surya Agung, Pertempuran Merebut Jembatan Wonokromo

Bila kita melewati Jembatan Wonokromo menuju arah Kebun Binatang Surabaya atau sebaliknya, maka kita pasti akan melewati monumen ini terletak dalam wilayah RW IV darmokali Kelurahan Darmo.Kecamatan Wonokromo. Sebuah Monumen yang dibangun untuk mengenang pertempuran pada fase pertama pertempuran Surabaya ketika para tentara pelajar bertempur melawan Inggris hingga berhasil merebut jembatan ini pada tanggal 29 Oktober 1945.

Sedangkan pada pertempuran fase kedua dibulan November 1945, jembatan ini berusaha direbut kembali oleh Inggris yang menembaki para pejuang dari atas pohon. Hingga saat ini pohon besar tempat para tentara Gurkha dan Inggris menembaki pejuang kita masih berdiri dan dibangun sebuah prasasti / tetenger dibawahnya.





Tulisan pada salah satu sisi monumen ini sudah mulai sulit terbaca, akan kami tuliskan kembali apa yang tertulis pada salah satu sisi monumen ini :

Kami pemuda pelajar Sekolah Menengah Surabaya yang pada awal revolusi bergabung dalam sekolah kader perwira bahu membahu dengan segenap lapisan rakyat arek arek suroboyo pada tanggal 29-10-1945 telah menyerbu dan merebut kembali jembatan wonokromo yang ketika itu diduduki Sekutu dalam rangka membangun kembali kekuasaan penjajah.


Para pejuang dijiwai dengan semangat persatuan dan kesatuan mendesak terus pantang mundur di medan pertempuran dengan semboyan merdeka atau mati menembus hujan peluru jembatan wonokromo kami lintasi.


Kami gempur musuh hingga bertekuklutut mengibarkan bendera putih .
Inilah percikan peristiwa dalam kota Surabaya pada awal revolusi. Salah satu perlawanan heroik arek arek Suroboyo yang berkobar kobar.


Peristiwa tersebut telah lama berlalu, hanya monumen ini yang dapat berbicara, menjadi saksi kenangan gemilang.


Semoga semangat 45 dapat menjiwai dan diwarisi oleh generasi muda mendatang



Korban Gugur :
1. Mayor Ronokoesoemo
2. Kapten Hoentoro
3. Djitro
4. Sakroni
5. Pairi
6. Mintardjan
7Tamidji
8. Moestadji
9. Soenarjo
10. Nyoman Oka
11. Saleh
12. Moesarkah
13. Sarwi
14. Chalik Santoso
15. Sudibjo
16. Radji Sudjono
17. Djoko Kadarusman
18. Surjadi
19. Brigjen Soewarno




Bila kawan-kawan melewati jembatan wonokromo ini, jangan lupa untuk menengok kearah monumen yang menjulang tinggi ini.....dan mengenang mereka-mereka yang telah gugur, mempertahankan jembatan...... mempertahankan kedaulatan....



share. Danti Ayu Irawati 

0

Museum Mpu Tantular 








BILD SURABAYA-Pada Hari Senin,16 November 2009 Pukul 10.30 wib Kepala Dinas Pariwisata & Kebudayaan (DISPARTA) Provinsi JATIM Bpk Drs Djoni Irianto MMT Meresmikan Museum Negeri Mpu Tantular Propinsi Jawa Timur Jl. Taman Mayangkara No. 6 Surabaya ke Jalan Raya Buduran, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.
Museum Mpu Tantular ini merupakan perkembangan dari museum sejarah Stedelijk di Surabaya yang didirikan oleh Von Vaber dari Jerman, yang saat ini dia sudah menjadi warga Surabaya. Gedung ini berdiri sejak tahun 1933, dan baru diresmikan pada tanggal 25 Juli 1937 di Jalan Pemuda 33 Surabaya.
Ide dibangunnya museum oleh Von Vaber yaitu untuk mengungkapkan sejarah kota Surabaya sebagai kota kelahiran. Mempersembahkan suatu Lembaga Kebudayaan yang pada akhirnya diwujudkan dalam bentuk museum.
Usaha-usaha ini dirintis oleh Von Vaber dimulai dengan mengumpulkan data secara sistematis sebagai bahan penulisan buku "OLD SURABAYA" (Surabaya Lama). Setelah buku tersebut dapat diterbitkan, langkah berikutnya adalah penulisan buku "NEW SURABAYA" (Surabaya Baru) yang diterbitkan tahun 1933.
Demi menjaga kelangsungan hidup museum maka museum Mpu Tantular ditempatkan dibawah yayasan Pendidikan Umum. Selanjutnya timbul inisiatif untuk menyerahkan museum ini kepada Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Timur. Peresmian dilakukan pada tanggal 1 Nopember 1974. Selanjutnya Museum Negeri Jawa Timur ini diberi nama Mpu Tantular dengan lokasi awalnya dijalan Pemuda 3 Surabaya. Karena penambahan koleksinya maka pada pertengahan bulan September - Oktober 1975 museum ini dipindahkan ke Jalan Taman Mayangkara 6 Surabaya, yang peresmiannya pada tanggal 12 Agustus 1977.
Gedung/Bangunan eks Museum Mpu Tantular Surabaya berada di Jl. Taman Mayangkara No. 6 Surabaya, mempunyai lokasi yang strategis, karena berada diantara Jalan Raya Darmo dan Jalan Diponegoro dan Lokasi ini berseberangan dengan kebun binatang Surabaya.
Bangunan eks museum ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian depan (gedung utama) dan bagian belakang (gedung baru). Gedung utama digunakan untuk pameran tetap yang dilanjutkan di gedung baru pada lantai bawah bagian Timur. Lantai atas digunakan untuk ruang Tata Usaha dan Ruang Kepala Museum.
Pada gedung baru lantai bawah sebelah Barat digunakan untuk Laboratorium Konservasi (Preparasi) dan Ruang Pameran Temporer, sedangkan pada bagian atasnya digunakan untuk ruang Perpustakaan dan Ruang Auditorium.

SEJARAHNYA
Museum Negeri Mpu Tantular Propinsi Jawa Timur merupakan kelanjutan dari Stedelijh Historisch Museum Surabaya, yang didirikan oleh Godfried Hariowald Von Faber tahun 1933
Awalnya lembaga ini hanya memamerkan koleksinya, dalam suatu ruang kecil di Readhuis Ketabang. Atas kemurahan hati seorang janda bernama Han Tjong King, museum dipindahkan ke Jalan Tegal Sari yang memiliki bangunan lebih luas. Seiring perjalanan waktu, masyarakat pemerhati museum berinisiatif untuk memindahkan museum ke lokasi yang lebih memadai, bertempat di Jalan Pemuda No.3 Surabaya. Diresmikan pada tanggal 25 Juni 1937.
Sepeninggal Von Faber, museum dikelola oleh Yayasan Pendidikan Umum didukung Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Museum dibuka untuk umum pada tanggal 23 Mei 1972 dengan nama Museum Jawa Timur. 13 Februari 1974 museum berubah status menjadi museum negeri, yang diresmikan pada tanggal 1 November 1974 dengan nama Museum Negeri Propinsi Jawa Timur. Dengan bertambahnya koleksi, museum membutuhkan area yang lebih luas, hingga akhirnya pada tanggal 12 Agustus 1977, secara resmi museum menempati lokasi baru, di Jalan Taman Mayangkara No.6 Surabaya.
Semakin bertambahnya usia, koleksi museum semakin bertambah, demikian juga banyaknya kegiatan edukatif kultural yang di laksanakan di museum. Sehingga membutuhkan lokasi yang lebih luas,pada tanggal 14 Mei 2009 museum ini rencanya akan di pindahkan ke kota sidoarjo karena gedung museum ini sudah tidak cukup lagi untuk menyimpan barang kuno/barang purba kala,akhirnya tanggal 16 November 2009 museum kembali diresmikan menempati lahan baru di Sidoarjo, di Jalan Raya Buduran, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.

Latar Belakang Pemberian Nama Museum Mpu Tantular
Mpu Tantular adalah seorang Pujangga Jawa Timur yang hidup dalam pertengahan abad XIV dari kerajaaan Majapahit. Yang terkenal dengan karyanya Kitab Arjuna Wiwaha dan Sutasoma. Di dalam Kitab Sutasoma inilah tercantum kata-kata Bhineka Tunggal Ika, yang sampai sekarang dipakai sebagai semboyan bangsa Indonesia. Nama Mpu Tantular sebagaimana halnya nama-nama Pujangga Kuno masa Jawa Timur pada umumnya, mengandung suatu pengertian yang tersembunyi mendukung suatu cita-cita pandangan hidup maha tinggi sesuai dengan tujuan agama/kepercayaan yang dianut pada jamannya. Dalam hal ini Tantular berarti tak tertulari, tak tergoyahkan, tak menyimpang, tak berubah, jadi tetap mengkhusukkan diri, tetap tekun pada ajaran agama untuk mencapai kehidupan abadi.
Dengan Pemberian nama tersebut diharapkan museum dapat mewarisi hakekat dan kemurniannya. (Ronny & Tia)
0

Trem Wonokromo


Stasiun Tram Wonokromo  dibangun tahun 1916 sebagai terminal (halte akhir) tram uap dari jalur Wonokromo-Kebonrojo. Lokasi stasiun tersebut sekarang menjadi terminal Joyoboyo atau lokasinya di jalan Bumiarjo masuk dalam perbatasan kelurahan Sawunggaling dan Kelurahan Darmo Kecamatan Wonokomo Surabaya, 1 kilometer sebelah utara stasiun kereta api Wonokromo saat ini. Bekas rel masih bisa ditemukan di sana.
Foto di atas diambil tahun 1925-an. Sebelumnya, sejak 1890, di sini sudah ada halte tram uap jalur Grudo-Mojokerto.
Pada tahun 1923 tram uap Grudo-Wonokromo dihapuskan dan stasiun ini menjadi terminal selatan dari jaringan tram listrik di Surabaya. Sebagaimana terlihat di foto ini, bagian depan (selatan) diperuntukkan untuk tram listrik, sedangkan bagian belakang digunakan untuk tram uap. Nantinya tram listrik akan berangkat ke kanan menuju ke Darmo-Simpang-Tunjungan-Jembatan Merah. Selain gedung stasiun, di emplasemen ini juga dibangun gedung remise (gudang/depot) untuk tram uap. Sedangkan remise tram listrik ada di Sawahan.
Tram listrik berhenti operasi tahun 1968 sedangkan tram uap dieksplotasikan hingga tahun 1978. Kemudian stasiun beralih fungsi menjadi terminal angkutan kota (angkot). ins

0

Kebun Binatang Surabaya

Kebun Binatang Surabaya (KBS) Terletak di Jalan Setail No 1 Termasuk wilayah kelurahan Darmo Kecamatan Wonokromo - Surabaya, pertama kali didirikan berdasar SK Gubernur Jenderal Belanda tanggal 31 Agustus 1916 No. 40, dengan nama “Soerabaiasche Planten-en Dierentuin” (Kebun Botani dan Binatang Surabaya) atas jasa seorang jurnalis bernama H.F.K. Kommer yang memiliki hobi mengumpulkan binatang. Dari segi finansial H.F.K Kommer mendapat bantuan dari beberapa orang yang mempunyai modal cukup.
Susunan Pengurus Pertama Kebun Binatang Surabaya :
  • Ketua: J.P Mooyman
  • Sekretaris: A.H. de Wildt
  • Bendahara: P Egos, dibantu 6 orang anggotanya yaitu :
  1. F.C. Frumau
  2. A. Lenshoek
  3. H.C. Liem
  4. J. Th. Lohmann
  5. Edw. H. Soesman
  6. M.C. Valk
Lokasi KBS yang pertama di Kaliondo, pada tahun 1916, kemudian pada tanggal 28 September 1917 pindah di jalan Groedo. Dan pada tahun 1920 pindah ke daerah Darmo untuk areal kebun binatang yang baru atas jasa OOST-JAVA STOOMTRAM MAATSCHAPPIJ atau Maskapai Kereta Api yang mengusahakan lokasi seluas 30.500 m2.
Untuk pertama kali pada bulan April 1918, KBS dibuka namun dengan membayar tanda masuk (karcis). Kemudian akibat biaya operasional yang tinggi, maka pada tanggal 21 Juli 1922 kebun botani / KBS mengalami krisis dan akan dibubarkan, tetapi beberapa dari anggotanya tidak setuju. Pada tahun ini pula. Dalam rapat pengurus diputuskan untuk membubarkan KBS, tetapi dicegah oleh pihak Kotamadya Surabaya pada waktu itu.
Pada tanggal 11 Mei 1923, rapat anggota di Simpang Restaurant memutuskan untuk mendirikan Perkumpulan Kebun Binatang yang baru, dan ditunjuk W.A. Hompes untuk menggantikan J.P. Mooyman, salah seorang pendiri KBS dan mengurus segala aktivitas kebun sebagai pimpinan. Bantuan yang besar untuk kelangsungan hidup pada waktu tahun 1927 adalah dari Walikota Dijkerman dan anggota dewan A. van Gennep dapat membujuk DPR Kota Surabaya untuk meraih perhatian terhadap KBS, dengan SK DPR tanggal 3 Juli 1927 dibelilah tanah yang seluas 32.000 m3 sumbangan dari Maskapai Kereta Api (OJS). Tahun 1939 sampai sekarang luas KBS meningkat menjadi 15 hektar dan pada tahun 1940 selesailah pembuatan taman yang luasnya 85.000 m2.
Dalam perkembangannya KBS telah berubah fungsinya dari tahun ke tahun. Kebun Binatang Surabaya yang dahulu hanya sekedar untuk tempat penampungan satwa eksotis koleksi pribadi telah dikembangkan fungsinya menjadi sarana perlindungan dan pelestarian, pendidikan, penelitian, dan rekreasi. Binatang-binatang yang menjadi koleksi KBS dari tahun ke tahun jumlah dan jenisnya terus bertambah, baik berasal dari luar negeri maupun yang berasal dari dalam negeri.
0

Sunan Bungkul

Sunan Bungkul mempunyai nama asli Ki Ageng Supo atau Empu Supo. Beliau sebenarnya adalah keturunan Ki Ageng dari Majapahit yang berkediaman di Bungkul Surabaya. Sunan Bungkul dikenal sebagai tokoh masyarakat dan penyebar agama Islam pada masa akhir kejayaan Kerajaan Majapahit di abad XV di tanah Jawa. Sumbangsih Sunan Bungkul dalam penyebaran Islam di tanah Jawa tak bisa diabaikan begitu saja. Ki Supo atau Sunan Bungkul juga membantu Sunan Ampel dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Sunan Bungkul adalah mertua dari Raden Paku atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Giri. Mbah Bungkul bernama Ki Ageng Supa. Sewaktu masuk Islam, berganti menjadi Ki Ageng Mahmuddin. Ia diperkirakan hidup di masa Sunan Ampel pada 1400-1481. Supa mempunyai puteri bernama Dewi Wardah. Makam beliau berada tepat di belakang Taman Bungkul Surabaya. Ada suatu cerita menarik tentang Ki Supa. Ki Supo ingin menikahkan puterinya. Namun ia belum mendapatkan sosok lelaki yang sesuai. Lalu Supa membuat sayembara, siapapun laki-laki yang dapat memetik delima yang tumbuh di kebunnya akan saya jodohkan dengan putriku Dewi Wardah. Sudah banyak orang yang mencoba mengikuti sayembara itu, namun belum ada yang berhasil memetik buah delima yang dimaksud. Bahkan sebagian dari mereka ketika memanjat berusaha untuk mengambil buah delima mereka jatuh dan berakhir dengan kematian. Pada suatu hari Raden Paku berjalan melewati pekarangan Ki Ageng Supo dimana terdapat pohon delima itu, sesampai di bawah pohon delima tiba-tiba pohon delima itu jatuh. Kemudian Raden Paku menyerahkan buah Delima tersebut kepada Sunan Ampel Sunan Ampel berkata kepad Raden Paku “Berbahagialah engkau, karena sebentar lagi engkau akan diambil menantu oleh Ki Ageng Supo. Engkau akan dijodohkan dengan putri beliau yang bernama Dewi Wardah” “Kajeng Sunan, saya tidak mengerti apa maksud Kanjeng Sunan, bukankah sebentar lagi saya akan menikah dengan putrid kanjeng Sunan” “Agaknya ini sudah menjadi suratan takdir bahwa engkau akan mempunyai dua orang istri, putriku Dewi Murtosiah dan putri Ki Ageng Supo, Dewi Wardah” Kemudian Sunan Ampel menceritakan perihal sayembara yang telah dibuat Ki Ageng Supo. Raden Paku mengangguk-angguk mendengar cerita Sunan Ampel. Ada cerita dengan versi lain. Bahwa Ki Ageng Supo sengaja memetik buah Delima dan menghanyutkan ke sungai. Delima itu dihanyutkan ke Sungai Kalimas yang mengalir ke utara. Alur air sungai ini bercabang di Ngemplak menjadi dua. Percabangan sebelah kiri menuju Ujung dan sebelah kanan menuju kali Pegirikan. Buah delima itu terapung dan hanyut ke kanan. Suatu pagi seorang santri Sunan Ampel yang mandi di Pegirikan Desa Ngampeldenta, menemukan delima itu. Sang santri (Raden Paku) pun menyerahkannya ke Sunan Ampel. Oleh Sunan Ampel delima itu disimpan. Besoknya, Supa menelusuri bantaran Kalimas. Sesampainya di pinggiran, ia melihat banyak santri mandi di sungai. Supa, yakin disinilah delima itu ditemukan oleh salah satu diantara pasa santri tersebut. Apakah ada yang menemukan delima, tanya Supa setelah bertemu Sunan Ampel. Raden Paku, murid Sunan Ampel dipanggil dan mengaku. Singkat cerita Raden Paku dinikahkan dengan anak Ki Ageng Supa, Dewi Wardah. Ki Ageng Supo akhirnya memperoleh mantu seorang santri dari Ampeldenta yakni Raden Paku. Sedangkan Raden Paku pada akhirnya menikahi dua orang putri Dewi Murtosiah, putri Sunan Ampel dan Dewi Wardah putri Ki Ageng Supo. Mereka hidup berbahagia selamanya.
5

Kamis, 04 Oktober 2012

Darmo

JALAN DARMO : Adalah nama jalan protokol yang memanjang memisahkan antara jalan Achmad Yani dengan jalan Urip Sumoharjo. dahulu ditahun 60-an jalan tersebut pernah diusulkan diganti menjadi jalan Patrice Lumumba, namun (waktu itu) diprotes oleh masyarakat akhirnya batal diganti. Patrice Lulmumba sendiri adalah nama seorang pejuang dibenua Afrika yang mati terbunuh karena semngat membebaskan bangs nya dari penjajahan Barat. beberapa tahun yang lalu ada lagi yang usul jalan Darmo diganti menjadi jalan Soekarno Hatta itupun akhirnya gagal. menurut pendapat saya nama jalan tentu ada peristiwa sejarahnya mengapa diberi nama seperti itu. ( kita sudah kehilangan nama jalan, misalnya jalan Ngemplak), jadi sebaiknya nama pahlawan apalagi (Soekarno Hatta) dipakai untuk nama jalan yang baru. Kembali ke jalan Darmo, ada yang mengatakan nama itu diambil dari nama mandor yang terkenal yang memborong pengerjaan jalan (waktu itu) Jadi tidak punya nilai sejarah yang kuat, tetapi ada yang mengatakan bahwa Darmo itu adalah Patih dari Kadipaten Surabaya dibawah Jayengrono. Konon bersama Adipatih Jayengrono, Patih Darmo dan Sawunggaling terbangunlah Surabaya hingga seperti sekarang ini. Semua itu baru kabar kabur, pak Dukut pasti bisa cerita lebih banyak dan lebih akurat.share
0

Contact us