Recent Posts

BATU AKIK GINGGANG

ASAL DAN SEJARAH BATU AKIK GINGGANG
Dalam bahasa Jawa “Ginggang” berarti gerak atau geser. Dinamakan ginggang karena batu tersebut memiliki sifat menggerakkan sinar yang datang di permukaan batu .
Batu Ginggang biasanya ditemukan di sungai Lukula – Karangsambung – Kebumen batuan ini  biasanya berukuran kecil bukan bongkahan. Khusus bahan Ginggang Lukula terbesar hanya berukuran sebesar kepalan tangan.
Ginggang dikatakan “Urip“ (hidup) jika motif garis dalam batuan dapat menimbulkan efek gerak. Apabila garis batuan tidak menimbulkan efek gerak maka dinamakan “ginggang mati” atau lebih dikategorikan batu corak.
JENIS DAN MACAM  BATU AKIK GINGGANG
Batu Ginggang Kebumen
Batu Ginggang KebumenBatu Ginggang Sulaiman
Batu Ginggang Sulaiman Batu Ginggang Kalimantan 
Batu Ginggang Kalimantan Batu Ginggang MerahBatu Ginggang Merah Batu Ginggang LukuloBatu Ginggang Lukulo HARGA BATU AKIK GINGGANG
Harga pasaran batu ginggag bervariasi seperti batu akik ginggang kebumen dengan ukuran 8,67 x 15,78 x 8,08 MM dijual dengan harga Rp. 1.650.000,00
Sedangkan harga bongkahan nya di jual dengan harga 150 rb – 250 rbu / gram tergantung motif dan kualitasnya.
CIRI BATU GINGGANG
Berikut ciri –ciri batu ginggang asli:
•    Batu ginggang asli mengandung serat-serat di dalamnya
•    Permata asli lebih berat
•    Mempunyai suhu yang lebih dingin
•    Dapat menggires kaca
CARA MERAWAT / PERAWATAN BATU AKIK GINGGANG
•     Sebaiknya hindari dari paparan sinar matahari yang terlalu lama .
•    Hindari mencucinya dengan air panas.
•    Untuk membersihkan batu akik, kita bisa menggunakan air sabun.
•    Hindari penggunaan cairan pemutih atau berbahan kimia keras dan panas.
•    Gunakan lap lembut untuk menggosok batu akik
•    Gunakan baby oil untuk menjaga kelembaban batu akik anda
KHASIAT, KEGUNAAN, FUNGSI, FAEDAH, MANFAAT, MITOS DAN RAHASIA BATU GINGGANG
Beberapa kegunaan batu akik ginggang yang paling di kenal adalah :
•    Sebagai penolak marabahaya
•    Untuk daya tarik
•    Untuk menambah Ketampanan / Kecantikan
•    Sebaga penarik keberuntungan
•    Menguatkan daya fikir dan mencerdaskan akal
•   Memiliki daya kharisma dan kewibawaan
•    Membawa keberuntungan dalam segala usaha
•   Memudahkan datangnya rezeki
•   Sebagai pelaris dagangan
•   Seningkatkan karir dan menguatkan jabatan
•   Untuk memperpanjang umur
Tapi masalah kepercayaan adalah masalah pribadi, tergantung masing-masing orang. Kalaupun batu Ginggang memiliki khasiat, itu adalah anugrah dari Tuhan Yang Maha Kuasa – bukan semata-mata kekuatan batu itu sendiri.

Penemuan Makam Keramat peninggalan kerajaan Majapahit dalam Kantor Bank

PERTEMPURAN SURABAYA - 10 NOVEMBER 1945.

Rumah Sakit Darmo, Surabaya

Rumah Sakit Darmo, Surabaya


Rate This

Rumah Sakit (RS) Darmo berada di Jalan Raya Darmo no. 90, gedung tua tersebut dibangun pada tahun 1913 dikenal dengan nama Kitahama Butai, sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Sewaktu pemerintahan Jepang gedung tersebut digunakan sebagai bengkel untuk memperbaiki dan menyimpan senjata berat serta kendaran perang antara lain tank. Pernah pula dipakai Jepang sebagai Kamp Interniran anak-anak dan wanita. Setelah pasukan Sekutu datang ke Surabaya, kamp ini diambil alih oleh Letkol Rendall pada tanggal 27 Oktober 1945, gedung ini menjadi pusat pertahanan pasukan Brigjen AWS Mallaby.
Karakteristik gedung ini dapat kita amati dari bentuk bangunan genteng yang unik, dengan banyaknya jendela-jendela yang berada di sekitar genteng. Selain itu gaya arsitektur yang melekat pada gedung ini lebih pada gaya rasjonajjsme, dengan perisai dan domer yang unik.
Bagi warga Kota Surabaya tentunya, gedung tua ini punya nilai sejarah tinggi yang tak pernah akan pupus, khususnya sebagai warisan lembaran sejarah para pejuang dalam membela Tanah Air. Karena di depan gedung inilah pertempuran antara tentara sekutu dan para pejuang Arek-arek Suroboyo mulai meletus. Tepatnya, saat itu tanggal 27 Oktober 1945 yang selanjutnya api pertempuran terus berkobar sampai peristiwa heroik 10 November 1945, bahkan gedung ini dijadikan benteng pertahanan oleh pasukan Brigade Jenderal AWS Mallaby.
Terlepas dari itu, RS Darmo adalah salah satu cagar budaya yang menjadi aset arek-arek Suroboyo. Selebihnya, bangunan berarsitektur Belanda yang juga banyak ditemukan di sejumlah kota di negeri Kincir Angin, seperti Scheveningen, Delt, Madurodam, Den Haag, Amsterdam, serta Kota Leiden itu, perlu dilestarikan (WKuDW) share

Monumen Wira Surya Agung, Pertempuran Merebut Jembatan Wonokromo

Bila kita melewati Jembatan Wonokromo menuju arah Kebun Binatang Surabaya atau sebaliknya, maka kita pasti akan melewati monumen ini terletak dalam wilayah RW IV darmokali Kelurahan Darmo.Kecamatan Wonokromo. Sebuah Monumen yang dibangun untuk mengenang pertempuran pada fase pertama pertempuran Surabaya ketika para tentara pelajar bertempur melawan Inggris hingga berhasil merebut jembatan ini pada tanggal 29 Oktober 1945.

Sedangkan pada pertempuran fase kedua dibulan November 1945, jembatan ini berusaha direbut kembali oleh Inggris yang menembaki para pejuang dari atas pohon. Hingga saat ini pohon besar tempat para tentara Gurkha dan Inggris menembaki pejuang kita masih berdiri dan dibangun sebuah prasasti / tetenger dibawahnya.





Tulisan pada salah satu sisi monumen ini sudah mulai sulit terbaca, akan kami tuliskan kembali apa yang tertulis pada salah satu sisi monumen ini :

Kami pemuda pelajar Sekolah Menengah Surabaya yang pada awal revolusi bergabung dalam sekolah kader perwira bahu membahu dengan segenap lapisan rakyat arek arek suroboyo pada tanggal 29-10-1945 telah menyerbu dan merebut kembali jembatan wonokromo yang ketika itu diduduki Sekutu dalam rangka membangun kembali kekuasaan penjajah.


Para pejuang dijiwai dengan semangat persatuan dan kesatuan mendesak terus pantang mundur di medan pertempuran dengan semboyan merdeka atau mati menembus hujan peluru jembatan wonokromo kami lintasi.


Kami gempur musuh hingga bertekuklutut mengibarkan bendera putih .
Inilah percikan peristiwa dalam kota Surabaya pada awal revolusi. Salah satu perlawanan heroik arek arek Suroboyo yang berkobar kobar.


Peristiwa tersebut telah lama berlalu, hanya monumen ini yang dapat berbicara, menjadi saksi kenangan gemilang.


Semoga semangat 45 dapat menjiwai dan diwarisi oleh generasi muda mendatang



Korban Gugur :
1. Mayor Ronokoesoemo
2. Kapten Hoentoro
3. Djitro
4. Sakroni
5. Pairi
6. Mintardjan
7Tamidji
8. Moestadji
9. Soenarjo
10. Nyoman Oka
11. Saleh
12. Moesarkah
13. Sarwi
14. Chalik Santoso
15. Sudibjo
16. Radji Sudjono
17. Djoko Kadarusman
18. Surjadi
19. Brigjen Soewarno




Bila kawan-kawan melewati jembatan wonokromo ini, jangan lupa untuk menengok kearah monumen yang menjulang tinggi ini.....dan mengenang mereka-mereka yang telah gugur, mempertahankan jembatan...... mempertahankan kedaulatan....



share. Danti Ayu Irawati 

Museum Mpu Tantular 








BILD SURABAYA-Pada Hari Senin,16 November 2009 Pukul 10.30 wib Kepala Dinas Pariwisata & Kebudayaan (DISPARTA) Provinsi JATIM Bpk Drs Djoni Irianto MMT Meresmikan Museum Negeri Mpu Tantular Propinsi Jawa Timur Jl. Taman Mayangkara No. 6 Surabaya ke Jalan Raya Buduran, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.
Museum Mpu Tantular ini merupakan perkembangan dari museum sejarah Stedelijk di Surabaya yang didirikan oleh Von Vaber dari Jerman, yang saat ini dia sudah menjadi warga Surabaya. Gedung ini berdiri sejak tahun 1933, dan baru diresmikan pada tanggal 25 Juli 1937 di Jalan Pemuda 33 Surabaya.
Ide dibangunnya museum oleh Von Vaber yaitu untuk mengungkapkan sejarah kota Surabaya sebagai kota kelahiran. Mempersembahkan suatu Lembaga Kebudayaan yang pada akhirnya diwujudkan dalam bentuk museum.
Usaha-usaha ini dirintis oleh Von Vaber dimulai dengan mengumpulkan data secara sistematis sebagai bahan penulisan buku "OLD SURABAYA" (Surabaya Lama). Setelah buku tersebut dapat diterbitkan, langkah berikutnya adalah penulisan buku "NEW SURABAYA" (Surabaya Baru) yang diterbitkan tahun 1933.
Demi menjaga kelangsungan hidup museum maka museum Mpu Tantular ditempatkan dibawah yayasan Pendidikan Umum. Selanjutnya timbul inisiatif untuk menyerahkan museum ini kepada Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Timur. Peresmian dilakukan pada tanggal 1 Nopember 1974. Selanjutnya Museum Negeri Jawa Timur ini diberi nama Mpu Tantular dengan lokasi awalnya dijalan Pemuda 3 Surabaya. Karena penambahan koleksinya maka pada pertengahan bulan September - Oktober 1975 museum ini dipindahkan ke Jalan Taman Mayangkara 6 Surabaya, yang peresmiannya pada tanggal 12 Agustus 1977.
Gedung/Bangunan eks Museum Mpu Tantular Surabaya berada di Jl. Taman Mayangkara No. 6 Surabaya, mempunyai lokasi yang strategis, karena berada diantara Jalan Raya Darmo dan Jalan Diponegoro dan Lokasi ini berseberangan dengan kebun binatang Surabaya.
Bangunan eks museum ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian depan (gedung utama) dan bagian belakang (gedung baru). Gedung utama digunakan untuk pameran tetap yang dilanjutkan di gedung baru pada lantai bawah bagian Timur. Lantai atas digunakan untuk ruang Tata Usaha dan Ruang Kepala Museum.
Pada gedung baru lantai bawah sebelah Barat digunakan untuk Laboratorium Konservasi (Preparasi) dan Ruang Pameran Temporer, sedangkan pada bagian atasnya digunakan untuk ruang Perpustakaan dan Ruang Auditorium.

SEJARAHNYA
Museum Negeri Mpu Tantular Propinsi Jawa Timur merupakan kelanjutan dari Stedelijh Historisch Museum Surabaya, yang didirikan oleh Godfried Hariowald Von Faber tahun 1933
Awalnya lembaga ini hanya memamerkan koleksinya, dalam suatu ruang kecil di Readhuis Ketabang. Atas kemurahan hati seorang janda bernama Han Tjong King, museum dipindahkan ke Jalan Tegal Sari yang memiliki bangunan lebih luas. Seiring perjalanan waktu, masyarakat pemerhati museum berinisiatif untuk memindahkan museum ke lokasi yang lebih memadai, bertempat di Jalan Pemuda No.3 Surabaya. Diresmikan pada tanggal 25 Juni 1937.
Sepeninggal Von Faber, museum dikelola oleh Yayasan Pendidikan Umum didukung Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Museum dibuka untuk umum pada tanggal 23 Mei 1972 dengan nama Museum Jawa Timur. 13 Februari 1974 museum berubah status menjadi museum negeri, yang diresmikan pada tanggal 1 November 1974 dengan nama Museum Negeri Propinsi Jawa Timur. Dengan bertambahnya koleksi, museum membutuhkan area yang lebih luas, hingga akhirnya pada tanggal 12 Agustus 1977, secara resmi museum menempati lokasi baru, di Jalan Taman Mayangkara No.6 Surabaya.
Semakin bertambahnya usia, koleksi museum semakin bertambah, demikian juga banyaknya kegiatan edukatif kultural yang di laksanakan di museum. Sehingga membutuhkan lokasi yang lebih luas,pada tanggal 14 Mei 2009 museum ini rencanya akan di pindahkan ke kota sidoarjo karena gedung museum ini sudah tidak cukup lagi untuk menyimpan barang kuno/barang purba kala,akhirnya tanggal 16 November 2009 museum kembali diresmikan menempati lahan baru di Sidoarjo, di Jalan Raya Buduran, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.

Latar Belakang Pemberian Nama Museum Mpu Tantular
Mpu Tantular adalah seorang Pujangga Jawa Timur yang hidup dalam pertengahan abad XIV dari kerajaaan Majapahit. Yang terkenal dengan karyanya Kitab Arjuna Wiwaha dan Sutasoma. Di dalam Kitab Sutasoma inilah tercantum kata-kata Bhineka Tunggal Ika, yang sampai sekarang dipakai sebagai semboyan bangsa Indonesia. Nama Mpu Tantular sebagaimana halnya nama-nama Pujangga Kuno masa Jawa Timur pada umumnya, mengandung suatu pengertian yang tersembunyi mendukung suatu cita-cita pandangan hidup maha tinggi sesuai dengan tujuan agama/kepercayaan yang dianut pada jamannya. Dalam hal ini Tantular berarti tak tertulari, tak tergoyahkan, tak menyimpang, tak berubah, jadi tetap mengkhusukkan diri, tetap tekun pada ajaran agama untuk mencapai kehidupan abadi.
Dengan Pemberian nama tersebut diharapkan museum dapat mewarisi hakekat dan kemurniannya. (Ronny & Tia)

Trem Wonokromo


Stasiun Tram Wonokromo  dibangun tahun 1916 sebagai terminal (halte akhir) tram uap dari jalur Wonokromo-Kebonrojo. Lokasi stasiun tersebut sekarang menjadi terminal Joyoboyo atau lokasinya di jalan Bumiarjo masuk dalam perbatasan kelurahan Sawunggaling dan Kelurahan Darmo Kecamatan Wonokomo Surabaya, 1 kilometer sebelah utara stasiun kereta api Wonokromo saat ini. Bekas rel masih bisa ditemukan di sana.
Foto di atas diambil tahun 1925-an. Sebelumnya, sejak 1890, di sini sudah ada halte tram uap jalur Grudo-Mojokerto.
Pada tahun 1923 tram uap Grudo-Wonokromo dihapuskan dan stasiun ini menjadi terminal selatan dari jaringan tram listrik di Surabaya. Sebagaimana terlihat di foto ini, bagian depan (selatan) diperuntukkan untuk tram listrik, sedangkan bagian belakang digunakan untuk tram uap. Nantinya tram listrik akan berangkat ke kanan menuju ke Darmo-Simpang-Tunjungan-Jembatan Merah. Selain gedung stasiun, di emplasemen ini juga dibangun gedung remise (gudang/depot) untuk tram uap. Sedangkan remise tram listrik ada di Sawahan.
Tram listrik berhenti operasi tahun 1968 sedangkan tram uap dieksplotasikan hingga tahun 1978. Kemudian stasiun beralih fungsi menjadi terminal angkutan kota (angkot). ins